L. Adam menulis tentang satu hal kehidupan orang-orang Minahasa di awal abad ke-20. Masih terdapat kebiasaan di kalangan orang-orang Minahasa di beberapa negeri melaksanakan ibadah di sawah-sawah ketika panen padi. Ibadah Kristen yang sudah mengganti fosso atau ritual agama leluhur mereka. Melihat itu, gereja lalu mengubahnya menjadi ibadah syukur panen di rumah gereja.


Mungkin yang Adam tulis itu adalah awal “pangucapan syukur” seperti yang dikenal sekarang. Yaitu, ibadah di gedung gereja lalu menjamu tamu untuk makan-makan sebagai ekspresi syukur kepada Yang Ilahi.
Ritual syukur atas keberhasilan panen sebetulnya umum di banyak etnis. Tanah sudah memberi kehidupan. Kehadiran Yang Ilahi dihayati melalui kesuburan tanah yang menghidupan segala jenis tanaman. Manusia terhubung dengan tanah, tanaman, hewan, hutan, sungai, laut, langit dan lain sebagainya. Semua itu terhubung pula dengan komunitasnya. Manusia menghayati hubungan-hubungan itu dalam kesadarannya terhadap adanya Yang Ilahi sebagai penyebab kehidupan, pemberi berkat dan pemelihara semesta.
Para leluhur Minahasa, jauh ke belakang, ketika mendirikan pemukiman (wanua/roong), mereka menandainya dengan suatu ritual peresmian. Ada dua batu yang didirikan di satu bagian pemukiman baru itu. Yang satu tegak berdiri (simbol laki-laki), dan yang satu lagi direbahkan (simbol perempuan). Ini yang disebut “watu tumotowa”. Macam-macam orang mengartikannya kini. Tapi, menurut saya artinya adalah “batu tanda kehidupan dimulai lagi”. Ia kemudian menjadi pusat ritual komunitas.
Setelah ritual mendirikan “watu tumotowa”, maka menyusul ritual berhari-hari yang berkaitan dengan kultus terhadap kesuburan tanah dan padi. Ada ritual membuka ladang baru, ritual menyemai dan menanam bibit padi. Akhir dari semua proses itu adalah ritual panen padi baru. Pada malam hari orang-orang di wanua atau roong itu melakukan ritual yang dipimpin oleh walian. Perempuan dan laki-laki menyanyi dan menari dengan hiasan “bunga padi” yang disisipkan di telinga.
Itulah “maengket”. Ritual, tarian dan nyanyian bersama mengingat kerja keras mulai dari membuka ladang, menyemai, menanam dan memelihara tanaman padi. Semua itu dihayati sebagai upaya melanjutkan kehidupan bersama komunitas.
Para penari dengan penuh penghayatan menyanyikan syair-syair ini:
Wailan si Rumengan ne patombokan am bene e owei.br>la un engket ni Rumengan ne patombokan am bene e oweibr>Si Empung Maajangbene e patombokan am bene e owei.br>Poipojan rindengannomei e patombokan am bene e benei.br>Wanam bua ang kaimio e patombokan am bene e oweibr>Wen kamijmengupumo e patombokan am bene e owei…..
Nama-nama leluhur primordial (wailan, empung, opo) disebut untuk untuk menyatakan syukur atas panen padi (bene, wene). Padi yang dimasak lalu dimakan dalam bentuk nasi dihayati sebagai pemberian semesta. Kehidupan sebagai “tou” terintegrasi dengan “wanua/roong”, dan semua terhubung dengan sejarah kehidupan bersama sejak zaman leluhur. Sumber-sumber kehidupan berasal dari “uma” (ladang, kebun), “talun” (hutan), dan “laur” (sungai, danau, laut).
Kehidupan leluhur ini adalah serba religius. Karena padi dihayati pemberian dari Yang Ilahi melalui para leluhur dan kebersamaan komunitas, maka panen padi baru adalah ritual merayakan kehidupan bersama. Kehidupan yang terus berlanjut disebabkan oleh adanya relasi resiprokal (mapalus) bukan transaksional.
Saya kira itulah makna kultural religius pada apa yang kemudian disebut pesta rakyat “pangucapan syukur” kini. Suatu cara atau bentuk penghayatan iman atas berkat kehidupan yang berakar pada kesadaran otentik keminahasaan tentang bagaimana kehidupan berkaum dimulai, bagaimana mengembangan dan memeliharanya. Kerja bersama untuk memperoleh hasil dihayati sebagai akibat dari adanya praktik hidup “bermapalus”.
Kehidupan tidak berasal dan berlanjut karena saling menghisap atau memperdayakan. Kesejahteraan tidak hanya untuk sekelompok orang yang memegang kuasa keagamaan atau politik. Kebersamaan adalah daya untuk membebaskan setiap orang dari ketidakberdayaan secara spiritual dan material.
Jadi, mestinya “pangucapan syukur” mengingatkan orang-orang Minahasa tentang daya “mapalus” (kebersamaan), tentang pemberian dari Opo Wailan Wangko yang dihayati sebagai berkat. Dan tentang arti menjadi manusia religius yang sekaligus sosial dalam kesatuan dengan semesta.
Itulah sehingga praktik “pangucapan syukur” identik dengan “dapur-dapur berasap” dari rumah-rumah anggota komunitas tanda sedang bersiap untuk berpartisipasi pada ritual kehidupan, yang oleh gereja mengubahnya terpusat di gedung gereja. Ibadah itu tidak terpisah dengan berbagi bersama orang lain melalui jamuan pesta makan.
Bagaimana mungkin tradisi atau praktik kultural yang kaya makna itu kemudian hanya ditandai dalam bentuk “amplop”. Atau pula, sungguh adalah suatu cara berteologi yang munafik, ketika hari ini masih saja terdengar khotbah dari para pendeta di atas mimbar yang mengutuk warisan-warisan praktik agama leluhur mereka sebagai yang harus ditolak atau diperangi. Selain itu, sungguh ini adalah ciri cara beragama yang munafik, tapi juga durhaka terhadap leluhur dan kebudayaannya sendiri.
Pesta “pangucapan syukur” tetaplah ia sebagai “ritual” kehidupan yang nilai dasarnya adalah penghayatan secara spiritual tentang kehidupan sebagai berkat dari Yang Ilahi melalui semesta. Pesta, makan bersama, saling bersua antara keluarga, kegembiraan dan keramaian wanua/roong adalah ekspresi syukur yang khas Minahasa.
Semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak kebahagiaan yang kita dapatkan.
Redaksi LensaUtara
Tim redaksi LensaUtara.id




