Nico Gara: Kehadiran Agama Malesung, adalah Kegagalan Gereja

Jeffry Pay
Jeffry Pay
2 menit Membaca
Pdt. Dr. Nico Gara, MA.(Foto: ist.)

MANADO, LensaUtara.id – Saat ini tengah ramai diperbincangkan mengenai kehadiran Agama Malesung di Tanah Adat Minahasa. Meskipun masih dikategorikan sebagai penghayat kepercayaan, namun kelompok yang menamakan diri sebagai Laroma (Lalang Rondor Malesung; ‘jalan lurus malesung’; arti umum bahasa Minahasa-red) ini, lebih dikenal dengan Agama Malesung.

Terkait kehadiran Agama Malesung, Pdt. Dr. Nico Gara, MA, mantan Sekretaris Umum Sinode GMIM berpendapat, ini adalah kegagalan gereja.

Menurut dia, harus diakui gereja ternyata tidak mampu meyakinkan mereka, sehingga mereka berbalik mencari identitas baru. Apalagi kondisi saat ini, dengan arus teknologi dan modernisasi, banyak orang yang ingin mencari kebahagiaan masing-masing. Termasuk mencari kepercayaan dimana ia merasa lebih tenteram dan bahagia.

Bagi Pdt Nico Gara, gereja tidak boleh menghakimi untuk menyatakan apakah mereka sesat atau tidak. “Karena secara hukum mereka mempunyai hak untuk beraktifitas. Tugas gereja adalah bagaimana menjaga umatnya agar jangan mengikuti ajaran lain. Apalagi tertarik dengan kepercayaan tersebut,” ujar Nico Gara yang juga Dosen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado.

Ia menilai, kejadian yang sama pernah terjadi ketika Perang Permesta. Di mana sebagian besar anggota Permesta menggunakan kekuatan gaib (majig) yang sehari-hari disebut “Opo-opo”. Mereka dibekali dengan ilmu kebal dalam perlindungan diri.

“Kejadian di Permesta ini, menunjukkan bahwa mereka kurang yakin dengan kekuatan Tuhan yang diajarkan gereja. Sehingga mereka mencari kekuatan alternatif. Maka ini juga adalah kegagalan gereja,” tuturnya lagi. (jeffry)

5 Ulasan

Liputan Khusus

Berita, Update, Preview Pertandingan

selama Piala Dunia 2022 Qatar hanya di LensaUtara.id

adbanner