
Diskusi mendalam maupun diskusi lepas mengenai sejarah sebuah kota semakin menarik untuk terus dilakukan. Hal ini tentunya tidak lepas dari adanya kenyataan historis yang mengiringi tumbuh kembangnya sebuah kota dalam prosesnya yang kadang–kadang dapat ditemui adanya keunikan–keunikan tersendiri. Dimana keunikan itulah yang telah membedakan antara satu kota dengan kota lainnya. Kota Manado pun demikian.

Unik dalam arti bahwa dalam perjalanan sejarahnya tidak hanya dimulai dari dibangunnya sebuah benteng atau karena letaknya yang di muara sungai. Melainkan karena dalam perjalanan sejarahnya kota ini telah dibedakan oleh munculnya homogenitas pada masyarakat dan budayanya atau juga oleh morfologi dan infrastrukturnya. Ada campuran manusia dan budaya di Kota pantai ini yang dalam catatan sejarahnya di mulai dari masuknya budaya barat (Kristen) atau budaya kolonial yang kemudian langsung berdampingan dalam budaya lokal Minahasa.
Yang juga mendominasi adalah masuknya budaya yang bercorak Islam. Awalnya datang atau dibawa masuk dari Ternate dan Gorontalo. Masuk pada kisaran abad ke-17. Sedangkan golongan Hindu yang terlambat masuk diketahui baru memulai rintisannya pada dekade 1960an.
Dalam perkembangannya konfigurasi penduduk kota pun demikian. Menunjukkan homogenitasnya masing–masing yang berkembang dalam sekat-sekatnya sendiri ataupun dengan sekat-sekat yang tidak lagi tegas. Suatu gambaran keanekaragaman kebudayaan penduduk dapat misalnya dilihat dari adanya kebudayaan tradisional. Kebudayaan yang berlatar agama seperti di atas, lalu kebudayaan berlatar politik. Kemudian kebudayaan daerah yang lahir sebagai antitese dari kebijakan politik pemerintah, serta yang terakhir yaitu apa yang disebut sekarang sebagai kebudayaan global.
Apa yang hendak disampingkan setelah melihat deskripsi di atas segera dapat menunjukkan dalam suatu simpulan bahwa daya tarik Manado sesungguhnya secara langsung telah mengundang orang melakukan migrasi ke daerah ini.
Kalau bagi bangsa Barat karena ketertarikan atau sumber daya alam Manado – Minahasa lewat hasil buminya, terutama beras dan hasil hutan dan lautannya. Berikut para pendatang lainnya, juga tertarik dengan pembangunan prasarana dan sarana yang dibangun pemerintah Kolonial yang berpusat di loji yang lantas berubah menjadi benteng dan seterusnya menjadi pusat pemerintahan.
Selain sebagai pusat pemerintahan perkembangan kemudian menunjukkan Manado juga telah menjadi Kota jasa dan perdagangan sehingga dengan sendirinya mampu menjadi daya tarik tersendiri. Didorong oleh kondisi ekonomi bahwa daerah asal para imigran tidak lebih baik dibanding Manado, maka keinginan melakukan lawatan ke Manado pun terus meningkat dari waktu ke waktu.




