
MENTERI Keuangan Sri Mulyani mengingatkan kita agar mewaspadai krisis global yang terjadi di depan mata. Seperti kita ketahui krisis global belakangan ini merupakan dampak dari pandemi covid-19.

Saat covid merebak dimana pengangguran naik sampai 15%, pemerintah Amerika meningkatkan pemberian stimulus baik kepada masyarakat berupa subsidi (semacam bansos di Indonesia), maupun dunia usaha khususnya UMKM yang dikenal sebagai Rencana Penyelamatan Amerika (American Rescue Plan). Untuk keluarga, Rencana Penyelamatan Amerika menawarkan bantuan langsung dalam bentuk Pembayaran Dampak Ekonomi hingga $1.400 per orang, langsung diberikan uang tunai ke kantong puluhan juta orang Amerika.
Bagi pengusaha, American Rescue Plan memberikan bantuan dalam bentuk tambahan $7 miliar untuk pinjaman Program Perlindungan Gaji yang “dapat dimaafkan”. Puluhan miliar bantuan untuk industri yang paling terpukul seperti maskapai penerbangan, dan kredit pajak penting yang memberi penghargaan kepada bisnis karena menjaga karyawan tetap pada gaji sambil menawarkan cuti berbayar untuk merawat orang-orang terkasih yang sakit atau menerima vaksin.
Terakhir, untuk pemerintah negara bagian dan lokal, American Rescue Plan menyediakan $350 miliar untuk mendukung kebutuhan mendesak dan meletakkan dasar untuk pemulihan jangka panjang. Di samping itu, program yang ditargetkan untuk mendukung investasi penting dalam proyek modal yang diperlukan untuk masa depan. Program Penyelamatan Amerika ini tentu ada biayanya. Program sebesar USD 1,9 triliun atau sekitar 28.500 triliiun rupiah telah memicu inflasi yang semakin tinggi. Saat itu bank sentral, the Fed, dikabarkan akan segera melakukan tapering off. Tapering off adalah pengurangan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral saat perekonomian sedang terancam dan membutuhkan banyak suntikan dana likuiditas.
Dampak dari tapering off pernah dirasakan Indonesia di tahun 2013, dimana investor asing menarik dananya dari Indonesia dan menaruh dananya di Amerika yang dianggap lebih menarik karena suku bunga meningkat. Saat itu kurs Rupiah anjlok dari 9.000-an mendekati 12.000-an.
Di awal tahun 2022 terjadi perang Rusia-Ukraina, ini juga membuat harga harga komoditi naik tinggi termasuk harga energy dan pangan seperti gandum yang membuat inflasi di Amerika tidak terkendali.




