SETIDAKNYA ADA dua peristiwa penting di Tanah Minahasa berkaitan dengan Pekabaran Injil Kristen dan Syiar Islam. Peristiwa pertama adalah saat misi Kristen Katolik masuk pertama kali di Tanah Minahasa pada tahun 1563.

Dan peristiwa kedua, saat Misi Pekabaran Injil Kristen Protestan pada tahun 1831. Yang menarik pada kedua peristiwa ini adalah, pada saat yang bersamaan Syiar Islam juga datang di Tanah Minahasa.
Di Tahun 1563, Syiar Islam juga sudah dicanangkan oleh Sultan Khairun dari Kesultanan (Kerajaan) Ternate. Ia bersama pasukannya sedang menuju Manado untuk menguasai jazirah Sulawesi Utara. Itu artinya, kalau Sultan Khairun mampu menaklukkan Manado dan seluruh jazirah Sulawesi Utara, maka otomatis Manado/Minahasa akan masuk dalam wilayah Kerajaan Ternate yang bernafaskan Islam.
Gelagat Sultan Khairun ini tercium oleh koloni Portugis yang berpusat di Ambon, Maluku. Portugis merasa, bila Ternate menguasai Sulut, maka pengaruh Portugis akan terganggu. Oleh karena itu Portugis kemudian menyiapkan pasukannya untuk menghalau pasukan Sultan Khairun. Dalam rombongan pasukan Portugis itu, juga ikut serta seorang Pastor, yaitu Diego de Magelhaes. Pastor Magelhaes kemudian melakukan pelayanan di Manado, dimana ia membaptis sekitar 1500 orang, termasuk Raja Manado Tua dan Raja Siau yang kebetulan berada di Manado.
Dengan peristiwa ini, maka Tanah Minahasa luput dari kekuasaan Sultan Ternate, yang secara otomatis akan mengislamkan rakyat di Minahasa.
Selanjutnya, peristiwa yang kedua yang hampir sama, yang terjadi saat kedatangan Pekabar Injil Johann Riedel dan Johan Schwarz di Tanah Minahasa. Sebagaimana kita ketahui kedua Pekabar Injil asal Jerman yang diutus Badan Penginjilan Belanda (NZG) ini tiba di Manado pada 12 Juni 1831. Dimana tanggal kedatangan mereka dijadikan Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan di Tanah Minahasa.
Banyak yang kurang memperhatikan, bahwa bersamaan kedatangan kedua penginjil ini, datang pula dua tokoh ulama Islam yang terkenal pada masa itu. Yaitu, pertama, Kyai Modjo yang diasingkan Belanda ke Tondano. Ia tiba di Manado pada tahun 1829 beserta 63 pengikutnya. Jadi dua tahun, sebelum kedatangan Riedel dan Schwarz. Kyai Modjo adalah Panglima Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825 – 1830).
Kedua, di tahun 1837, tiba pula di Manado ulama besar Imam Bondjol. Ia juga diasingkan oleh Belanda, setelah ditangkap dalam masa Perang Padri di Sumatera. Imam Bondjol mengalami pengasingan bersama beberapa pengikutnya di Desa Lotta, Pineleng.
Dari catatan ini, menunjukkan bahwa kehadiran Pekabar Injil dan Ulama Islam ini akan memberi pilihan bagi orang Minahasa, yang pada saat itu didominasi dengan agama suku. Apakah akan tertarik dengan Kristen atau Islam.




