Antara Pekabaran Injil Kristen dan Syiar Islam di Minahasa

Jeffry Pay
Jeffry Pay
5 menit Membaca
Ilustrasi Pekabar Injil Johann Riedel dan Masjid Raya Kyai Modjo.(Foto: ist.)

SETIDAKNYA ADA dua peristiwa penting di Tanah Minahasa berkaitan dengan Pekabaran Injil Kristen dan Syiar Islam. Peristiwa pertama adalah saat misi Kristen Katolik masuk pertama kali di Tanah Minahasa pada tahun 1563.

Dan peristiwa kedua, saat Misi Pekabaran Injil Kristen Protestan pada tahun 1831. Yang menarik pada kedua peristiwa ini adalah, pada saat yang bersamaan Syiar Islam juga datang di Tanah Minahasa.

Di Tahun 1563, Syiar Islam juga sudah dicanangkan oleh Sultan Khairun dari Kesultanan (Kerajaan) Ternate. Ia bersama pasukannya sedang menuju Manado untuk menguasai jazirah Sulawesi Utara. Itu artinya, kalau Sultan Khairun mampu menaklukkan Manado dan seluruh jazirah Sulawesi Utara, maka otomatis Manado/Minahasa akan masuk dalam wilayah Kerajaan Ternate yang bernafaskan Islam.

Gelagat Sultan Khairun ini tercium oleh koloni Portugis yang berpusat di Ambon, Maluku. Portugis merasa, bila Ternate menguasai Sulut, maka pengaruh Portugis akan terganggu. Oleh karena itu Portugis kemudian menyiapkan pasukannya untuk menghalau pasukan Sultan Khairun. Dalam rombongan pasukan Portugis itu, juga ikut serta seorang Pastor, yaitu Diego de Magelhaes. Pastor Magelhaes kemudian melakukan pelayanan di Manado, dimana ia membaptis sekitar 1500 orang, termasuk Raja Manado Tua dan Raja Siau yang kebetulan berada di Manado.

Dengan peristiwa ini, maka Tanah Minahasa luput dari kekuasaan Sultan Ternate, yang secara otomatis akan mengislamkan rakyat di Minahasa.

Selanjutnya, peristiwa yang kedua yang hampir sama, yang terjadi saat kedatangan Pekabar Injil Johann Riedel dan Johan Schwarz di Tanah Minahasa. Sebagaimana kita ketahui kedua Pekabar Injil asal Jerman yang diutus Badan Penginjilan Belanda (NZG) ini tiba di Manado pada 12 Juni 1831. Dimana tanggal kedatangan mereka dijadikan Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan di Tanah Minahasa.

Banyak yang kurang memperhatikan, bahwa bersamaan kedatangan kedua penginjil ini, datang pula dua tokoh ulama Islam yang terkenal pada masa itu. Yaitu, pertama, Kyai Modjo yang diasingkan Belanda ke Tondano. Ia tiba di Manado pada tahun 1829 beserta 63 pengikutnya. Jadi dua tahun, sebelum kedatangan Riedel dan Schwarz. Kyai Modjo adalah Panglima Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825 – 1830).

Kedua, di tahun 1837, tiba pula di Manado ulama besar Imam Bondjol. Ia juga diasingkan oleh Belanda, setelah ditangkap dalam masa Perang Padri di Sumatera. Imam Bondjol mengalami pengasingan bersama beberapa pengikutnya di Desa Lotta, Pineleng.

Dari catatan ini, menunjukkan bahwa kehadiran Pekabar Injil dan Ulama Islam ini akan memberi pilihan bagi orang Minahasa, yang pada saat itu didominasi dengan agama suku. Apakah akan tertarik dengan Kristen atau Islam.

Masyarakat di Tondano sendiri, secara psikologis masih trauma dengan Perang Tondano yang terjadi tahun 1809. Dimana mereka terlibat perang dengan Belanda yang dianggap sewenang-wenang. Kehadiran Riedel yang notabene dari Eropa, bukan tidak mungkin menimbulkan kesan akan menindas orang Tondano lagi.

Pada kenyataannya, Kristen akhirnya menjadi pilihan mayoritas orang Minahasa. Rupanya, pendekatan Riedel, berbeda dengan pendekatan penguasa Belanda.

Sementara itu, Kyai Modjo hanya bisa mengIslamkan beberapa wanita Minahasa, lewat pernikahan mereka dengan wanita Minahasa yang ada di Tondano. Dan hasil perkawinan mereka itulah yang kemudian lahirlah komunitas baru, yaitu Jawa Tondano atau Jaton.

Dalam catatan penginjil Nicolaas Grafland lewat bukunya tentang Minahasa, ia menuturkan, Kyai Modjo selalu berkunjung ke rumah penginjil Johann Riedel di Tondano. Dan Riedel pernah memberikan Kitab Injil kepada Kyai Modjo.

Selanjutnya, Imam Bondjol juga kurang mampu mempengaruhi masyarakat Minahasa yang ada di Pineleng. Komunitas Islam yang ada di Pineleng, kurang mengalami perkembangan. Sehingga jumlah mereka kurang signifikan.

Perlu juga dicatat, di tahun 1830, Pangeran Diponegoro juga diasingkan di Manado. Ia sempat tinggal di Manado selama 3 tahun. Setelah itu ia dipindahkan ke Makasar dan meninggal dunia di sana. Kehadirannya juga di Manado, tidak membawa pengaruh untuk pengembangan Islam.

Dari beberapa catatan ini, memberikan gambaran bahwa persentuhan orang Minahasa dengan Kristen dan Islam sudah berjalan secara alamiah. Bahwa kemudian, orang Minahasa akhirnya memilih imannya menjadi Kristen, itulah kemenangan iman yang harus disyukuri.

Dan pada 12 Juni 2022 baru-baru ini, umat Kristen di Tanah Minahasa merayakan HUT Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen ke-191. (jeffry)

Tinggalkan ulasan

Liputan Khusus

Berita, Update, Preview Pertandingan

selama Piala Dunia 2022 Qatar hanya di LensaUtara.id

adbanner