Hasto Apresiasi Peran Pemprov Sulut Gandeng Para Pihak Tuntaskan Stunting

Redaksi LensaUtara
Redaksi LensaUtara
2 menit Membaca
Wakil Gubernur Steven Kandouw (tengah) bersama Ketua TP-PKK Sulut, Ir Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan (kedua kiri), Bupati Sangihe dr Rinny Tamuntuan (ujung kiri), Kepala BKKBN Sulut Diano Tino Tandaju dan Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Denny Mangala pada acara 'Penilaian Kinerja Penurunan Stunting Tahun 2023'.(Foto: ist.)

Manado, LensaUtara.id – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengapresiasi peran Pemprov Sulut menggandeng para pihak untuk menurunkan stunting.

“Angka stunting saat ini dari 24,4 persen turun menjadi 21,6 persen, sedangkan keluarga beresiko stunting juga mengalami penurunan dari 21,9 persen menjadi 13,5 persen,” kata Hasto pada acara ‘Penilaian Kinerja Penurunan Stunting Tahun 2023 di Manado, Senin.

Namun Hasto menilai pada evaluasi pemberian makan tambahan pada bayi usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif ternyata masih kurang optimal.

 “Kami berharap masalah makanan tambahan dapat dicarikan solusi mengoptimalkan anggaran yang ada di pemerintah daerah,” harapnya.

 Dia juga berharap, BKKBN Sulut dan Satgas Penurunan Stunting Provinsi Sulut melihat kembali indikator, karena indikator -indikator inilah yang akan menjadi bahan penilaian.

 Solusinya lebih pada memperhatikan keluarga yang beresiko tinggi stunting, punya urutan data by name by addres, terhadap rencana program untuk pengadaan air bersih, jamban dan rumah layak huni, katanya.

Pada bagian lain, Hasto mengatakan, Sulut mempunyai modal besar yang baik karena angka rata-rata kelahiran pada remaja sudah di bawah angka nasional, sudah menurun,”

Angka kelahiran pada remaja di Provinsi Sulut menjadi contoh karena berada pada angka 2,1 di bawah rata-rata nasional, sementara kematian ibu hamil masih berada di atas rata rata nasional dimana dalam setiap 100.000 ibu melahirkan terdapat 230 kematian ibu hamil, sementara angka kematian ibu hamil secara nasional berjumlah 189 orang.

Selanjutnya, angka kematian bayi berada sedikit di atas rata rata nasional yaitu sebesar 16 kematian bayi dalam setiap 1000 kelahiran, sementara di Sulut terdapat 17 kematian bayi dalam setiap 1000 kelahiran.

Hasto mengatakan, derajat kesehatan bangsa ditentukan oleh jumlah kematian ibu dan kematian bayi, dan ini akan lebih baik ketika melakukan program percepatan penurunan stunting.

Bagikan Artikel ini
Tinggalkan ulasan

Liputan Khusus

Berita, Update, Preview Pertandingan

selama Piala Dunia 2022 Qatar hanya di LensaUtara.id

adbanner