Ad imageAd image

Ghana, Uruguay dan Tendangan Penalti

Petra Reneyvo
Petra Reneyvo
8 menit Membaca
Para pemain tim nasional Ghana (kiri) dan Uruguay berkumlul di tengah lapangan Stadion Al Janoub, Al Wakra, Qatar, Jumat (2/2/2022).(Foto: ist.)

Al Wakrah, Qatar, LensaUtara.id – Masih lekat di ingatan para suporter Ghana, ketika Luis Suarez berulah dan melakukan aksi nekat menggunakan tangannya demi menghalau bola sundulan Dominic Adiyiah masuk ke gawang Uruguay di Johannesburg, Afrika Selatan, selusin tahun silam.

Aksi yang dilakukan oleh Suarez praktis mencegah kemenangan Ghana pada babak tambahan waktu dan setidaknya menjaga skor 1-1.

Suarez langsung diganjar kartu merah karena aksinya itu dan Ghana memperoleh kesempatan tendangan penalti, sementara si penyerang yang kala itu masih membela Ajax dipaksa menyaksikan dengan was-was dari tepi lorong menuju kamar ganti.

Namun aksi nekat itu menjelma jadi pengorbanan berarti sebab Asamoah Gyan yang maju sebagai algojo, mendapati bola tendangannya membentur mistar gawang dan Suarez tertangkap kamera meluapkan kegembiraannya yang membuncah atas kegagalan itu di mulut lorong ruang ganti.

Asamoah belakangan membayar kegagalannya dengan melakoni tugas secara baik dalam adu penalti setelah skor imbang 1-1 bertahan hingga bubaran babak tambahan.

Namun, kiper Fernando Muslera kemudian mementahkan eksekusi dua algojo Ghana, John Mensah dan Adiyiah, sehingga ketika Sebastien Abreu sukses mengonversi penalti gaya panenka, Uruguay mengunci kemenangan adu penalti 4-2 dan melangkah ke semifinal.

Apa yang dilakukan Suarez kala itu jelas memperpanjang napas Uruguay di Piala Dunia 2010, sekaligus mencegah Ghana jadi tim Afrika pertama yang mencapai babak semifinal di turnamen sepak bola paling bergengsi ini.

Dalam komentar selepas pertandingan tersebut, Suarez menyebut bahwa ia telah menyelamatkan Uruguay dan ia menegaskan tak punya pilihan lain selain menggunakan tangannya. Suarez bahkan sempat membandingkan aksinya dengan Gol Tangan Tuhan dari Diego Maradona.

Selang 12 tahun kemudian, Ghana dan Uruguay kembali dipertemukan di panggung Piala Dunia 2022 Qatar setelah kedua tim itu ditempatkan Grup H.

Pertemuan kedua tim semakin menjadi dramatis, karena dijadwalkan sebagai pertandingan terakhir masing-masing di fase penyisihan Grup H.

Laga itu menjadi lebih penting dalam penentuan nasib keduanya, sebab Ghana sudah punya tiga poin dan Uruguay cuma satu serta berstatus nirgol dari dua penampilan sebelumnya.

Dalam jumpa pers pralaga, Suarez dengan tegas menyatakan bahwa ia sama sekali tak menyesali apa yang dilakukannya terhadap Ghana 12 tahun lalu.

Hal itu disampaikan Suarez setelah diberitahu oleh seorang jurnalis Ghana bahwa di negaranya ia punya label sebagai iblis atau diablo, dan para suporter The Black Star ingin memensiunkan pemain berusia 35 tahun tersebut.

Suarez bahkan bersikeras bahwa meski ia melakukan perilaku haram tersebut, pada akhirnya bukan dia yang membuat Ghana gagal lolos ke semifinal Piala Dunia 2010 melainkan eksekusi penalti akibat tindakannya itu yang gagal berbuah gol.

“Saya tidak (akan) meminta maaf soal itu, saya memang melakukan handball, tapi pemain Ghana lah yang gagal mengeksekusi penalti, bukan saya,” katanya dalam sesi jumpa pers di Doha, Kamis (1/12).

“Saya mungkin meminta maaf bila mencederai lawan karena jegalan dan dikartu merah, tapi di situasi itu saya mendapat kartu merah dan wasit juga memberi (Ghana) tendangan penalti.”

“Bukan salah saya, saya tidak gagal mengeksekusi penalti. Bahkan pemain yang gagal itu juga bilang akan melakukan hal serupa yang saya lakukan di situasi itu. Jadi bukan tanggung jawab saya,” ujarnya panjang lebar.

Sama-sama Jadi Abu

Meski yang bertanya adalah wartawan dari negara lawan, komentar dan jawaban dari Suarez belakangan akan terbukti menjadi sebuah insinuasi sukses yang menanamkan beban tambahan di benak para pemain Ghana untuk pertemuan di Stadion Al Janoub, Al Wakrah, Qatar, Jumat malam.

Tak seperti Uruguay, yang belum menang dan nirgol, Ghana sebetulnya memasuki pertandingan dengan beban relatif lebih ringan yakni hanya memburu skor imbang untuk bisa memastikan kelolosan ke babak 16 besar.

Uruguay yang wajib menang jika ingin membuka kesempatan lolos ke babak 16 besar dihadapkan pada persoalan ketika sang kiper Sergio Rochet kurang bersih dalam mengamankan bola liar hasil tembakan Jordan Ayew dan malah menjatuhkan Mohammed Kudus di dalam kotak terlarang.

Wasit Daniel Siebert harus berkonsultasi panjang dengan asisten wasit video (VAR) hingga meninjau langsung tayangan ulang di monitor tepi lapangan sampai akhirnya menunjuk titik putih menghadiahi tendangan penalti bagi Ghana.

Yang terjadi kemudian, bukannya Ghana membuka keunggulan tapi eksekusi penalti Ayew terlalu dekat dengan jangkauan Rochet dan gagal melesak ke dalam gawang.

Entah kebetulan atau memang berhubungan, seolah-olah komentar dari Suarez telah memasuki alam bawah sadar Ayew dan para pemain Ghana yang menghadapi bola di titik putih.

Uruguay dan Suarez seolah menghadirkan kutukan baru bagi Ghana, yakni firasat buruk tiap kali mendapat tendangan penalti.

Kegagalan Ayew seolah memukul mental para pemain Ghana dan sebaliknya membakar semangat Uruguay yang balik mengambil alih kendali permainan.

Sampai akhirnya sebuah umpan silang dari Darwin Nunez gagal diantisipasi dua pemain Ghana dan bola jatuh di hadapan Suarez yang melakukan satu tipuan kecil sebelum melepaskan tembakan ke arah gawang.

Kiper Lawrence Ati-Zigi sebetulnya bisa mementahkan tendangan Suarez, tapi bola masih muntah dan langsung disambar oleh Giorgian de Arrascaeta untuk membuka keunggulan Uruguay 1-0 atas Ghana pada menit ke-26.

Gol itu semakin menyuntik semangat Uruguay yang sukses menggandakannya enam menit berselang kala De Arrascaeta dengan cermat memanfaatkan umpan pantul Suarez.

Uruguay hampir beroleh kesempatan menambah keunggulan 2-0 yang mereka miliki, bila saja tuntutan tendangan penalti setelah Nunez dijegal Daniel Amartey dikabulkan oleh wasit David Siebert.

Tapi Uruguay masih unggul hingga Suarez bisa kembali ke bangku cadangan sedikit lebih tenang dibandingkan 12 tahun silam yang sarat kekhawatiran dan rasa bersalah.

Pasalnya, ketika Suarez ditarik, dalam laga Grup H lainnya, Korea Selatan masih ditahan imbang 1-1 oleh Portugal yang relatif lebih menguasai jalannya pertandingan.

Namun, senyum Suarez berubah menjadi getir sebab pada menit pertama waktu tambahan babak kedua, Korsel merebut keunggulan 2-1 atas Portugal berkat gol Hwang Hee-chan di Stadion Education City.

Layar besar di Stadion Al Janoub menampilkan klasemen sementara Grup H yang menempatkan Korsel merebut posisi kedua berbekal produktivitas gol 4-4 ketimbang 2-2 milik Uruguay meski kedua tim sama-sama mengoleksi empat poin.

Uruguay terus menekan dan kali ini Ati-Zigi melakukan sebuah penyelamatan gemilang atas sundulan tajam Edinson Cavani semenit jelang bubaran waktu normal.

Sementara Ghana memburu gol yang bisa semakin merusak peluang Uruguay lolos, tapi tembakan Antoine Semenyo bisa dihalau oleh Sebastian Coates yang pasang badan dan sepakan jarak jauh Kamaldeen Sulemana mampu dimentahkan Rochet.

Laga di Stadion Education City berakhir lebih awal dengan kemenangan 2-1 mampu dikantongi Korsel, sementara Uruguay tak henti mencari celah pertahanan Ghana meski tak berbuah kemenangan.

Akan tetapi, suporter Ghana tampak begitu gembira untuk mencemooh Suarez atas hasil kekalahan 0-2, meski tim mereka sendiri juga gagal lolos ke babak 16 besar.

Agaknya, Ghana sukses memensiunkan Suarez yang kini sudah berusia 35 tahun dari panggung Piala Dunia. Kecuali bila mana Suarez hendak memaksakam diri.

Pada akhirnya, baik Ghana maupun Uruguay gagal lolos le babak 16 besar Piala Dunia 2022 dan mereka sama-sama menjadi abu.

Bagikan Artikel ini
Tinggalkan ulasan

Liputan Khusus

Berita, Update, Preview Pertandingan

selama Piala Dunia 2022 Qatar hanya di LensaUtara.id

adbanner