Catatan Politik Jelang Pilpres: Prabowo-Puan atau Prabowo-Imin

Jeffry Pay
Jeffry Pay
3 menit Membaca
Puan Maharani (kiri), Prabowo Subianto (tengah) dan Muhaimin Iskandar.(Grafis: p3tr4)

KONSTALASI politik menjelang Pemilu 2024, makin ramai saja. Dan ramalan politik jadi santapan enak setiap hari. Apalagi kalau bicara soal calon presiden.

Setidaknya, ada tiga nama capres yang paling populer, dilihat dari survey yang dilakukan berbagai lembaga survey. Ketiganya adalah, Prabowo, Ganjar Pranowo dan Anis Baswedan.

Prabowo memang selalu menjadi teratas ratingnya. Meskipun beberapa kali ikut menjadi kontestastan pemilihan presiden dan wakil presiden, dan belum mencapai sukses, namun Prabowo ternyata masih tetap laku.

Belakangan Prabowo harus ekstra hati-hati dalam menentukan pilihan. Apakah akan berkoalisi dengan PDIP ataukah dengan partai lain.
Meskipun untuk partai Nasdem, namanya tidak diusung oleh partai besutan Surya Paloh ini, tapi Prabowo masih tetap jadi incaran partai lain.

Bila Prabowo dengan partai Gerindranya berkoalisi dengan PDIP, banyak yang meramalkan, Prabowo sangat cocok dipasangkan dengan Puan Maharani, ketua DPR RI dan juga putri dari Megawati.

Hanya saja, sebagai Partai yang besar, PDIP mungkin akan mengincar kursi Presiden. Meskipun Puan kurang mendapat dukungan dilihat dari hasil survey.

Dan kalau Puan yang jadi calon Presiden, itu berarti PDIP tidak akan berkoalisi dengan Gerindra. Karena bagaimanapun juga Prabowo pasti hanya mengincar kursi Presiden.

Jadi, tinggal menunggu keputusan Megawati apakah legowo Puan hanya menjadi calon wakil presiden.

Sementara itu, santer juga amatan politik dimana Prabowo bisa saja berpasangan dengan Muhaimin Iskandar, ketua Partai Kebangkitan Bangsa.

Keduanya, memang punya potensi untuk maraup suara mayoritas di Jawa. Apalagi PKB dengan dukungan komunitas Nahdathul Ulama, akan sangat berpengaruh.

Atau juga bukan tidak mungkin Prabowo bisa berpasangan dengan Ganjar Pranowo yang juga cukup santer diberitakan sebagai salah satu calon presiden. Tapi Ganjar tentu harus menerima “dibuang” PDIP. Dan Ganjar juga mungkin tidak mengincar kursi wakil presiden.

Sebagai catatan kritis bagi Prabowo, kalau ia ingin berhasil maka dia harus belajar dari pengalaman sebelumnya. Salah satu yang harus Prabowo lakukan adalah menghindar dari lingkaran orang-orang yang terindikasi intoleran dan radikalisme. Karena bagaimanapun juga bila warna agama menjadi bahan politik, otomatis akan mempengaruhi keterpilihannya. Prabowo harus merangkul semua agama, dan menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika.(jeffry)

Tinggalkan ulasan

Liputan Khusus

Berita, Update, Preview Pertandingan

selama Piala Dunia 2022 Qatar hanya di LensaUtara.id

adbanner