22 Januari Tahun 400 Masehi Ditetapkan Sebagai Tanggal Berdirinya Wanua Kinilow

Tanggal 22 Januari Tahun 400 Masehi ditetapkan sebagai hari jadi atau tanggal berdirinya Wanua Kinilow. (Ist)

Tomohon, LensaUtara.id–Tanggal 22 Januari Tahun 400 Masehi ditetapkan sebagai hari jadi atau tanggal berdirinya Wanua Kinilow, sebagai bagian dari wilayah Kota Tomohon.

Keputusan tersebut dicetuskan dalam Seminar Budaya Penetapan Hari Berdirinya Wanua Kinilow yang digelar di Kantor Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara, Rabu (1/7/2026),

Penetapan ini dihasilkan melalui proses kajian sejarah, pengumpulan data, serta diskusi yang melibatkan para budayawan, akademisi, penulis, dan masyarakat.

Seminar Budaya ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian sejarah serta identitas budaya masyarakat Kinilow.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Budayawan Tomohon Sonny Moningka, penulis sejarah Judie Turambi, serta anggota Tim Misi 6 Gubernur Sulawesi Utara, Prof. Dr. Benny Pinontoan, M.Sc.

Seluruh hasil kajian dipaparkan secara terbuka dan mendapat persetujuan peserta seminar. Budayawan Tomohon Sonny Moningka menjelaskan bahwa penetapan tersebut bukan dilakukan secara sepihak, melainkan melalui serangkaian pertemuan, verifikasi, dan pengolahan data, baik dari sumber lisan maupun berbagai referensi tertulis.

Menurutnya, seluruh temuan kemudian dirangkum dan dipresentasikan dalam forum seminar hingga akhirnya disepakati bersama.

“Kami meyakini bahwa umur Kinilow jauh lebih tua dari pelaksanaan musyawarah adat di Batu Pinabetengan yang diperkirakan berlangsung sekitar tahun 670 Masehi,” urainya.

Berdasarkan kajian berbagai sumber sejarah, kami menetapkan bahwa Wanua Kinilow telah berdiri pada tahun 400 Masehi, kata Moningka.

Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya seminar yang berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan.

“Semangat gotong royong dan mapalus menjadi kekuatan sehingga kita memiliki satu pemahaman yang sama dalam menjaga sejarah dan warisan leluhur Kinilow,” katanya.

Sementara itu, penulis sejarah Judie Turambi menilai hasil seminar tersebut memiliki arti penting, bukan hanya bagi masyarakat Kinilow, tetapi juga bagi perkembangan penelitian sejarah di Indonesia. (Redaksi LU)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *