Siswi MTs Kotamobagu Meninggal, Kemenag Sulut Ganti Kepsek, Sudah Solusi?

Taufik Darmawan
Taufik Darmawan
3 menit Membaca
Siswi berinisial BT (13) diduga tewas karena dirundung oleh teman-temannya pada 08 Juni 2022.(Foto: ist.)

KOTAMOBAGU, LensaUtara.id – Belum habis cerita kelam yang terjadi di lembaga pendidikan tanah air, setelah kejadian asusila terjadi Kota Bitung berapa minggu yang lalu, terjadi lagi penganiayaan berujung hilangnya nyawa seorang berinisial BT (13), siswi di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Utara, langsung memberikan respon terkait hal ini dengan melakukan rotasi pergantian terhadap Kepala Sekolah MTs.

“Saat ini untuk memperbaiki sistem yang ada, Kanwil Kemenag Provinsi Sulut telah menyerahkan SK pergantian Kepala Sekolah, juga telah menurunkan tim untuk menggali informasi tentang meninggalnya siswa madrasah,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kantor Kemenag Kotamobagu, Sahran Gonimbala LC.

Pergantian kepala sekolah ini dilakukan secara tertutup di Kantor Kementrian Agama Kotamobagu, dimana Kepala Sekolah Intan Safitri Mokodompit kini digantikan oleh Idang Simbala, sebagai pelaksana tugas harian di sekolah MTs tersebut.

Kanwil Kemenag Provinsi Sulut juga telah menurunkan tim pencari fakta untuk menggali informasi terkait meninggalnya salah satu siswa madrasah tersebut.

Terkait kasus penganiyaan ini, pihak Kepolisian Polres Kotamobagu saat ini belum bisa memberikan keterangan atas perkembangan penanganan kasus penganiyaan tersebut, selain masih dalam proses pemeriksaan, polisi juga menunggu hasil otopsi yang akan di kirimkan oleh Rumah Sakit Bhayangkara Manado.

Sebelumnya, pihak kepolisian Polres Kotamobagu telah menyampaikan, bahwa dugaan kasus penganiyaan yang terjadi di sekolah Madrasah ini, masih terus dilakukan dan masuk pada tahap penyidikan. Tercacat sudah 14 siswa serta 4 (empat) tenaga pendidik yang diperiksa oleh pihak kepolisian.

Pemeriksaan para siswa berhadapan hukum ini dilakukan secara tertutup, polisi juga meminta adanya pendampingan baik dari orang tua siswa, UPTD serta dinas pemberdayaan perlindungan perempuan dan anak Kotamobagu.

Walaupun langkah yang diambil ini dirasa sudah tepat, namun semua pihak yang terlibat tidak boleh salah kaprah dan menaruh semua salah langsung kepada satu hal, dimana dalam kasus ini adalah kepala sekolah yang jauh dari permasalahan sesungguhnya.

Kajian mendalam soal penyimpangan tingkah laku, kultur keluarga, penggunaan sosial media, pergaulan diluar sekolah dan aspek diluar lembaga pendidikan ini wajib juga ikut ditelaah untuk mengetahui sedekat mungkin dengan akar permasalahan, dan menjadi acuan perbaikan untuk belajar dari hilangnya nyawa seorang siswa yang punya status “terdidik” ini. (taufik/tvonenew)

Tanah air adalah di mana tidak ada kekejaman antara orang dengan orang. Kalau adat atau kebiasaan suatu nasion kejam, kukira lebih baik jangan punya tanah air saja

YB Mangunwijaya
1 Ulasan

Liputan Khusus

Berita, Update, Preview Pertandingan

selama Piala Dunia 2022 Qatar hanya di LensaUtara.id

adbanner