Lockdown di India Berujung Kekacauan dan Kelaparan, PM Modi Minta Maaf

  • Whatsapp

Lensautara.id, Jakarta – Perdana Menteri Narendra Modi meminta maaf kepada masyarakat miskin India yang terkena dampak terparah dari kebijakan penutupan wilayah atau lockdown selama berlangsungnya pandemi virus korona (covid-19). Ia menyadari kebijakannya telah membuat banyak warga India menderita.

“Pertama saya ingin meminta maaf kepada seluruh rakyat. Warga miskin pasti berpikir perdana menteri seperti apa ini, yang membuat kami dalam masalah besar,” kata Modi dalam pidatonya di sebuah radio nasional Minggu (29/3).

Bacaan Lainnya

PM Modi menerapkan lockdown di India pada 25 Maret untuk 21 hari ke depan. Tujuannya adalah menekan angka penyebaran covid-19 di seantero India.

Namun keputusan tersebut menghantam jutaan warga miskin di India. Banyak dari mereka kelaparan, dan sejumlah pekerja migran melarikan diri dari berbagai kota besar karena pekerjaan mereka dihentikan.

Menurut lembaga think-tank Brookings, dari 1,3 miliar populasi India, 73 juta di antaranya adalah rakyat miskin. Kebanyakan mereka mengecam keputusan Modi yang membuat mereka kian sengsara.

Akibat keputusan lockdown tersebut, ribuan dari mereka memutuskan pulang kampung, berdesakan di terminal dan stasiun, malah semakin berisiko menularkan corona. Kekacauan timbul karena alat transportasi tidak beroperasi sehingga warga mulai berjalan kaki ratusan kilometer ke kampung halaman mereka.

Tanda pagar #ModiMadeDisaster trending di Twitter India pada Minggu. Kematian akibat mudik juga terjadi. Pada Sabtu, empat warga tewas tertabrak truk ketika mereka jalan kaki di negara bagian Maharashtra. Seorang pria pada Sabtu meninggal dunia karena kelelahan berjalan kaki 200 kilometer untuk mudik.

Modi menegaskan bahwa langkah lockdown diperlukan untuk mencegah penyebaran virus corona yang saat ini sudah menjangkiti 1.024 orang dan menewaskan 27 orang di India.

“Langkah yang diambil sejauh ini, akan memberikan India kemenangan melawan corona,” kata Modi.

Pemerintahnya telah mengumumkan stimulus ekonomi USD 22,6 miliar sebagai bantuan langsung tunai atau sembako bagi warga miskin India.

Namun menurut para ahli ekonomi, termasuk peraih Nobel Ekonomi 2019, Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, itu tidak cukup. Menurut mereka, pemerintah harus menambah jumlah bantuan.

“Tanpa itu, bola salju krisis akan berubah menjadi longsor ekonomi, dan rakyat tidak punya pilihan selain membangkang,” kata mereka dalam tulisan opini di koran Indian Express.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *